Pages

Friday, 25 December 2009

Ujian Nasional Bahasa Inggris 2010 dan Upaya Penguasaannya


SEBELUMNYA model ujian nasional (UN) bahasa Inggris hanya Reading Section saja, yaitu siswa mengerjakan soal yang dibaca terlebih dahulu. Sejak pelaksanaan UN 2003 lalu ada paradigma baru, yaitu ditambah Listening Section.Sebuah bagian model pengerjaan soal ujian melalui menyimak lisan (Listening Comprehension) telebih dahulu. Siswa harus menyimak pembicaraan dari tape player mengenai: 1. Pernyataan yang dihubungkan dengan gambar (pictures-statements), 2. Pertanyaan dan jawaban(question and responds), 3. Percakapan singkat (short conversation) dan 4. Pembicaraan singkat .
Ujian yang telah diimplementasikan tahun lalu itu merupakan langkah maju bagi perkembangan pembelajaran bahasa Inggris, sebagai bahasa asing atau bahasa kedua dalam pendidikan di negara kita ini. Model ujian ini adalah modifikasi dari model Test of English International Communication (TOEIC). Sebuah model ujian bahasa Inggris yang bersertifikasi Internasional.
Ujian bahasa Inggris model TOEIC, yang telah dilaksanakan oleh kelompok siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) pada tahun 2002/2003, merupakan kebijakan Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur) dalam upaya merealisasikan tujuan kurikulum tahun 1999, yaitu: 1. Untuk mengukur kemampuan berbahasa Inggris yang lebih kontekstual, sebagai media komunikasi di dunia kerja, 2. Menyiapkan mental siswa memasuki pasar kerja internasional, 3. Memberikan umpan balik bagi sekolah dalam perbaikan pembelanjaran bahasa Inggris. Menurut Kepala Balitbang Depdiknas, Bahrul Hayat dalam surat kabar Pikiran Rakyat mengatakan bahwa ujian nasional bahasa Inggris model tersebut, yang akan dilaksanakan pada tahun 2004, wajib diikuti juga oleh peserta ujian nasional untuk kelompok sekolah menengah umum (SMU).
Ujian Nasional Bahasa Inggris sekarang ini harus menguji empat keterampilan berbahasa para siswa, yaitu listening, speaking, reading, dan writing skill. Pada pelaksanaan uji Comprehension dan Speaking Ability boleh jadi membuat mereka merasa cemas dan resah. Terlebih lagi standar nilai kelulusan yang harus mereka peroleh tiap tahun  meningkat. Timbulnya perasaan tersebut memang wajar karena selama ini umumnya mereka belajar bahasa Inggris untuk mengetahui bagaimana bahasa Inggris(how to know English) bukan bagaimana caranya bisa berbahasa Inggris (how to use English). Artinya, siswa mendapat masalah dengan model ujian seperti ini karena mereka terbiasa dengan bentuk pertanyaan tertulis, yang lebih berorientasi pada pengetahuan aturan kebahasaan atau teori.
Pada dasarnya untuk memiliki keterampilan atau kemampuan mengerjakan ujian menyimak dan berbicara sangat bergantung pada kekuatan kosa kata (Words power) yang seorang siswa kuasai. Begitu pula dia harus melakukan praktik atau latihan menyimak dan berbicara dengan rajin atau aktif. Dr. Mortimer menyatakan bahwa "Good listening is an active, complex process that take knowledge of a few basic tenets and lots of practise".(How to speak-How to listen, hal 14).
Menurut para ahli bahasa, orang yang sedang belajar berbahasa Inggris harus sering mendengarkan (active to listen)orang yang berbahasa Inggris. Dia harus melakukannya secara intensif, sehingga dapat memperkuat kosa kata yang pernah tahu atau didengar. Kesempatan itu dia bisa lakukan, seperti mendengarkan pelajaran melalui radio atau kaset. Demikian pula saat dia menonton film atau berita yang berbahasa Inggris di TV. Dia harus konsisten mendengarkan atau melakukan hal tersebut. Aktivitas itu akan menumbuhkan perkembangan yang tidak terasa. Pembicaraan yang semula sulit dimengerti akan semakin menjadi lebih jelas dan bisa dimengerti.
Penulis yakin bahwa seorang siswa tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) memahami ucapan "I don't know/help me/I love you" dsb, ketika dia sedang nonton sebuah film berbahasa Inggris.
Pada umumnya siswa sekolah lanjutan memiliki kendala atau malas untuk aktif berbahasa Inggris (active to speak) karena perasaan malu atau kaku. Perasaan itu mengakibatkan mereka tidak punya semangat (mood) Begitu juga mereka merasa takut melanggar hukum kebahasaan (grammatical rules). Oleh karena itu, berikut ini upaya untuk menghilangkan dua hal yang menghambat pada kelancaran atau penguasaan kompetensi para siswa berbahasa Inggris. Dan upaya kesiapan siswa menghadapi UN.
Pertama, berlatih sambil bercanda (kidding while practicing). Seorang siswa harus memiliki semangat juang melakukan berbahasa Inggris dengan teman atau orang di sekitarnya. Apabila itu sulit dilakukan dia bisa melakukannya dengan cara santai tapi serius atau sambil bercanda.
Kedua, hilangkan rasa bersalah (away of feeling mistaken). Umumnya seorang yang sedang belajar bahasa Inggris sulit berbicara karena takut atau sering ditegur karena melakukan kesalahan secara gramatis.
Ketiga, melakukan perpaduan bahasa (speak in language mixing). Selama seseorang belajar bahasa Inggris, boleh jadi berbicara bahasa Ingris yang berbaur dengan bahasa sendiri (mother tongue). Keempat, berbicara sendiri (speak in loneliness). Ketika sedang santai, berdiam menyendiri seseorang kadang-kadang merenung atau melihat gambar.
Itulah sebagian dari banyak cara agar siswa memiliki kompetensi dan dapat menguasai UN pada 2010 ini. Para siswa akan meraih keberhasilan manakala mereka melaksanakan banyak latihan atau praktik dengan konsisten. ***

0 comments:

Post a Comment